politik global Amerika serikat dengan Suriah

Bab I. Pendahuluan

Timur Tengah adalah kawasan yang rawan akan konflik, baik yang terselubung ataupun yang benar-benar tampak. Konflik tersebut tidak hanya berupa perang saudara tetapi juga diwarnai oleh intervensi suatu negara diluar kawasan, contoh sebut saja Amerika Serikat yang telah melakukan invasinya ke Irak. Alasan atas invasi itu adalah tuduhan atas Irak yang melakukan pengembangan senjata nuklir (Weapon Mass Destruction) dan menyembunyikannya, yang setelah tidak terbukti kemudian, AS mengganti alasan atas invasi tersebut untuk mewujudkan pemerintahan berdemokrasi di Irak. Pada saat itu Saddam Husein sebagai presiden Irak dianggap sangat otoriter dalam melaksanakan pemerintahannya dan telah memerintah rakyatnya dengan tangan besi selama bertahun-bertahun tanpa diganti ditambah dengan tuduhan pembantaian massal.

Invasi yang dilakukan AS ke Irak tidak hanya memperkeruh beragam permasalahan yang sudah terjadi di Irak dan di kawasan Timur Tengah sejak lama, namun juga menimbulkan permasalahan baru. Sebagaimana kita ketahui , ada 2 kelompok besar islam disana, yaitu Sunni dan Syiah. Dimana kelompok Syiah merupakan kelompok masyarakat yang terbesar yaitu 58%, Sunni 17 %, dan juga meliputi bangsa Kurdi sebesar 20 %1. Di dalam kelompok islam tersebut juga terdapat pro dan kontra terhadap pemerintahan Saddam. Pemberlakuan embargo ekonomi di Irak selama 1 dasawarsa lebih meyebabkan kelompok – kelompok tersebut mengalami kesulitan ekonomi dan menjadi anti Saddam karena menganggap ini kesalahan pemerintahannya. Namun disisi lain banyak juga yang pro-Saddam dengan kebijakan anti Israelnya dan melawan invasi AS. Dengan jatuhnya pemerintahan Saddam tidak berarti masyarakat Irak suka dengan kependudukan AS. Pro dan kontra ini bisa menjadi pemicu perang saudara antara kelompok Sunni dan Syiah ataupun konflik internal dari kelompok tersebut, dan hal ini sudah terjadi sekarang. Akibatnya, masyarakat Irak akan terus dilanda konflik dan tidak mampu menjalankan pemerintahannya sendiri, hal ini tentu menjadi keuntungan bagi AS.

Setelah invasi berhasil mematahkan pemerintahan Saddam Husein dan menjatuhkannya hukuman mati dengan tuduhan yang bertumpuk, maka saat itu Irak dikuasai oleh AS. Dampak dari invasi tersebut juga dirasakan di negara-negara sekitar seperti Suriah. Saat ini telah terjadi pertentangan antara AS dan Suriah mengenai pembunuhan mantan perdana menteri Lebanon lewat serangan bom di Beirut pada 14 Februari 2005 lalu. Tak lama setelah serangan bom yang menewaskan seluruhnya 20 orang2, keterlibatan Damaskus terhadap pembunuhan tokoh anti-Suriah itu sudah tercium. Rafik Hariri dikenal sebagai salah satu pemimpin Lebanon yang gigih menyerukan penarikan pasukan Suriah yang bercokol di Lebanon selama lebih kurang 25 tahun. Akibatnya, dia menjadi korban suatu persekongkolan yang diduga melibatkan Damaskus dan pihak-pihak pro-Suriah di dalam negeri Lebanon sendiri.

Menlu AS, Condoleezza Rice, segera tampil memanfaatkan situasi. Pada beberapa kesempatan kunjungan ke Timur Tengah, berkali-kali ia menyatakan, bahwa Suriah merupakan perintang perubahan yang hendak diterapkan Washington di Timur Tengah3. Konon perubahan yang bersendikan keamanan dan stabilitas. Namun, beberapa media Timur Tengah mempertanyakan, perubahan apa yang dikehendaki AS? Setelah bara panas melanda Timur Tengah, melalui serangan AS ke Irak Maret 2003, baru Suriah mendapat sorotan khusus. Terutama dari AS. Suriah dianggap lahan kritis yang membahayakan. Menjadi tempat suaka para pendukung setia Saddam Hussein dan pusat pelatihan milisi Irak anti-AS. Walaupun pada “Perang Teluk” 1990, Suriah di bawah Presiden Hafez al-Assad membantu AS, tetapi pada perang sekarang amat netral. Bahkan cenderung memihak Irak. Itulah yang membuat AS berang dan menempatkan Suriah sebagai target lanjutan dari “perang antiteroris” yang dikobarkan AS di Timur Tengah. Bahkan perang dan kerusuhan berkepanjangan seperti di Afganistan dan Irak. Dengan dugaan tersebut, Ujung-ujungnya, Condoleeza Rice menginginkan penarikan mundur tentara Suriah dari Lebanon. Suriah segera mematuhinya. Presiden Suriah yang baru Bashar al-Assad telah memerintahkan pasukan Suriah kembali ke negaranya. Penarikan tahap awal telah dimulai Minggu (6/3)4. Sisanya akan ditarik berangsur-angsur. Dengan dukungan yang datang dari menteri luar negeri AS maka keinginan Hariri dalam penarikan kembali tentara Suriah di Lebanon dapat tercapai.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba”. Peribahasa itulah yang cocok diberikan pada AS. Keinginan AS untuk terus mengejar antek-antek Saddam Husein akhirnya mendapatkan momen dan alasan yang mendukung untuk meng-Irakkan Suriah. Jika kita mengingat kembali peristwa invasi AS ke Irak beberapa waktu yang lalu, terlihat bahwa AS mengelak dari alasan pertamanya untuk menyerang Irak bahwa Irak menyembunyikan senjata pemusnah massal yang tidak terbukti. Kemudian AS mengganti tuduhannya dengan memerangi negara-negara yang belum menjalankan prinsip demokrasi khususnya bagi negara-negara yang memiliki rezim Otoriter seperti Irak. Akhirnya tampak tujuan sebenarnya dari serangan tersebut dimana minyak sebagai sasaran utamanya.

Kita ketahui pada saat ini dunia dalam situasi krisis energi, khususnya minyak. Stok minyak di ladang-ladang minyak dunia yang tersebar di banyak negara telah sangat berkurang yang menandakan ancaman sangat besar bagi negara-negara industri besar seperti Perancis, Cina, India, Jepang, dan Amerika Serikat khususnya5. Dikarenakan Timur Tengah sebagai kawasan penghasil minyak terbesar didunia maka kawasan tersebut rentan akan konflik mengingat cadangan minyak dunia yang semakin menipis. Perebutan sumber minyak di Timur Tengah tidak dapat dilakukan hanya dengan alasan bahwa mereka membutuhkan minyak untuk tetap menjalankan roda perekonomian tetap harus ada alasan yang dapat diakui oleh dunia internasional agar tidak terdapat banyak pertentangan. Inilah yang telah dilakukan para pemikir neo-konservatif AS untuk mempengaruhi pandangan masyarakat internasional mengenai setiap agresi militer yang dilakukannya.

Jika diperhatikan secara seksama, tentu saja alasan AS untuk kembali menancapkan pelurunya di Suriah tidaklah kuat hanya dengan alasan Suriah telah menjadi daerah pelarian antek-antek Saddam Husein6. Kalaupun alasan tersebut benar, tetap saja kondisi Irak tidak akan berubah dibawah tangan pendukung rezim Saddam jika mereka kembali ke Irak karena Irak secara pemerintahan berada dibawah perintah AS walaupun aparat pemerintahannya adalah warga Irak sendiri, ditambah lagi dengan sudah meninggalnya pemimpin diktator mereka serta anak-anaknya. Untuk mendukung rencananya tersebut maka AS membutuhkan dukungan dari dalam Timur Tengah sendiri. Oleh karena itu terbunuhnya mantan perdana menteri Lebanon oleh Suriah merupakan peluncur kuat yang akan mendukung akselerasi AS di Suriah.

Kemudian timbul berbagai persepsi tentang aksi AS di Suriah. Apakah aksi tersebut benar-benar untuk menjatuhkan sisa-sisa rezim Saddam Husein? Atau untuk mengamankan stok minyak AS, karena Suriah merupakan tetangga Irak dan berpotensi sebagai jalur masuknya pemberontak yang pro-Irak.

II. Analisis Kasus

Permasalahan di Irak ini mengakibatkan stabilitas negara – negara di kawasan Timur Tengah terganggu. Invasi AS ke Irak telah mengubah peta strategis di Timur Tengah, dan yang paling terpengaruh adalah Suriah. Suriah yang berbatasan langsung dengan Irak sadar bahwa kekuatan AS bisa menjadi ancaman bagi mereka juga. Pengaruh tersebut banyak yang bersifat negatif, dimana Suriah mendapat tekanan untuk menyesuaikan kebijakan politiknya dengan kepentingan AS di Timur Tengah. Irak selama ini menjadi sandaran strategis Suriah bila setiap saat memuncak krisis konflik Arab-Israel7. Maka, Suriah kini benar-benar mendapat pukulan politik luar biasa menyusul pendudukan AS atas Irak itu.

Suriah tidak hanya kehilangan sandaran strategisnya, yakni Irak, tetapi ia sendiri dalam keadaan terjepit, di mana di sebelah barat ada Israel dan di sebelah timur terdapat Amerika. Adapun sandaran strategis Suriah yang lain, yakni Iran, juga berada dalam posisi terkepung pula. Di sebelah timur Iran, ada Afganistan yang diduduki pasukan multinasional pimpinan AS dan di sebelah barat terdapat Irak yang diduduki AS. Setelah AS menduduki kota Baghdad, Presiden AS George Walker Bush meminta Suriah bisa bekerja sama dalam tiga isu krusial8: Pertama, Damaskus tidak memberi perlindungan pada mantan pejabat Irak yang berhasil lari ke Suriah dan segera menyerahkan mereka yang sudah berada di negeri itu pada AS. Kedua, bekerja sama dalam upaya membasmi semua jenis senjata pemusnah massal. Ketiga, menghentikan dukungan terhadap faksi-faksi oposisi Palestina dan Hezbollah yang bermarkas di Suriah dan Lebanon.

Berangkat dari berbagai permasalahan di atas, kita akan mencoba menganalisis terlebih dahulu kepentingan nasional AS dan kebijakan-kebijakan luar negerinya yang terbagi menjadi tiga tingkatan: vital, highly important, important9(lihat tabel 1.1).

Tabel 1.1

National Interest United States of America

VITAL

Mencegah serangan ke dalam negeri Amerika Serikat

Suriah diidentifikasi oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang mensponsori terorisme global. Suriah juga diduga telah mengembangkan senjata pemusnah massal dan perjanjian kerjasama jangka panjang teknologi nuklir dengan Rusia walaupun secara spesifik belum terbukti.

HIGHLY IMPORTANT

Mengamankan suplai minyak di kawasan Timur Tengah bagi Amerika Serikat

Melindungi keberadaan negara sekutu dan sahabat dari agresi luar

Terkait dengan ketergantungan Amerika Serikat akan konsumsi minyak mentah untuk menjalankan kegiatan industri di dalam negeri serta menjamin kelancaran suplai minyak di kawasan Timur Tengah. Hal ini ditujukan supaya Suriah tidak menutup jalur pipa sumur minyaknya karena dapat mempengaruhi aliran distribusi minyak yang dibutuhkan oleh Amerika Serikat.

AS ingin menjaga kelangsungan hidup negara sekutu dan sahabat dengan menempatkan pasukan-pasukan militernya di Teluk Persia dan kawasan Timur Tengah.

IMPORTANT

Menyebarkan demokrasi dan menghargai akan adanya Hak Asasi Manusia serta mencegah genosida dan pembunuhan massal dalam perang sipil.

Amerika Serikat berniat melakukan demokratisasi di negara-negara kawasan Teluk Persia, termasuk negara Suriah. AS juga membuka jalur kerjasama kepada Suriah untuk sama-sama menyelesaikan konflik di Irak.

Dalam perkembangannya, terbukti bahwa AS sendiri tidak mampu menyelesaikan konflik di Irak dan juga tidak mampu membangun pemerintahan yang aman dan demokratis bagi masyarakat Irak. Hal ini juga yang membuat AS kembali membuka jalur dengan Iran dan Suriah untuk menyelesesaikan konflik di Irak secara bersama – sama. Ini terlihat dari pertemuan antara Menlu AS, Condoleezza Rice, yang mengadakan kontak tingkat tertinggi pertama dengan Menlu Suriah dalam lebih dari dua tahun terakhir, dan menyambut menlu Iran dalam konferensi penting internasional mengenai Irak pada bulan Mei 200710. Hal ini menandai peralihan dalam sikap Presiden AS, George W. Bush, yang semula menentang kontak tingkat tertinggi dengan Suriah dan Iran, sehubungan dengan kaitan Washington yang sedang mencari jalan untuk mengakhiri konflik Irak. Selain itu, Suriah dan Irak juga telah memulihkan hubungan diplomatik mereka pada November tahun 2006, setelah 26 tahun hubungan mereka pecah saat Irak di bawah kekuasaan militer AS11. Namun gelagat AS ini juga bisa dianggap sebagai suatu usaha untuk melempar tanggung jawab permasalahan Irak kepada negara tetangganya karena tidak mampu mengatasi konflik yang ada di Irak.

Bersamaan dengan terus meningkatnya gerakan perlawanan Irak melawan pasukan pendudukan Amerika Serikat dan sekutunya serta semakin memburuknya situasi keamanan di Irak, tekanan AS atas Suriah kian kuat pula. Tekanan tersebut berupa tuntutan kerja sama total Suriah sesuai dengan strategi baru AS, berkaitan dengan tiga isu krusial diatas tadi. Pada saat itu, ada lima tuntutan AS yang diajukan kepada Suriah12:

  1. Suriah harus membekukan hubungan dan menutup kantor-kantor faksi oposisi Palestina di Damaskus dan menghentikan bantuan politik, dana serta senjata pada Hezbollah di Lebanon. Suriah juga diminta tidak mengganggu proses damai Israel-Palestina sesuai dengan konsep peta jalan damai.

  2. Menarik pasukan Suriah dari Lebanon dan tidak lagi ikut campur urusan dalam negeri Lebanon.

  3. Menghancurkan semua senjata kimia dan biologi serta tidak berusaha memiliki senjata nuklir.

  4. Mengontrol dan mengendalikan perbatasan Suriah-Irak serta mencegah upaya penyusupan senjata dan sukarelawan Arab atau asing dari perbatasan Suriah ke Irak.

  5. Melakukan reformasi politik seperti menghapus undang-undang darurat, melakukan liberalisasi politik dan ekonomi, serta mengurangi dominasi negara dan partai kepada masyarakat.

Tuntutan-tuntutan di atas sengaja dibuat oleh AS karena melihat adanya campur tangan Suriah di Irak sejak tahun 2004 dalam membantu Abu Musab Zarqawi, kepala Al-Qaeda yang berafiliasi di Irak. Hal ini terlihat dari tertangkapnya foto-foto para ofisial Suriah dalam sebuah pemberontakan di Irak pada November’04 oleh para tentara AS dan Irak13. Oleh sebab itu pula, Presiden Bush sempat memperingatkan Suriah dan Iran dengan keras bahwa mencampuri dalam urusan internal Irak bukan kepentingan mereka, walaupun pada akhirnya sikapnya melunak.

Selanjutnya kita akan melihat kepentingan nasional AS secara global dan terhadap Suriah yang lebih jelas dalam tabel matriks level of abstraction (lihat tabel 1.2).

Tabel 1.2

Level of Abstraction

Level of Issue Area

Abstraction Proliferation of WMD US-Syria Relations

High Amerika Serikat mempromosikan Amerika Serikat bertanggung jawab

“Global War On Terrorism” pasca khusus sebagai pemimpin kawasan

9/11 sebagai bagian kampanye di kawasan Timur Tengah. Suriah

mereka dalam memerangi teroris. berada dalam pengawasan Amerika

karena negara ini dideteksi sebagai salah satu negara “rogue state”.

Medium Mendorong negara-negara dunia Amerika berusaha mengawasi Suriah

untuk ikut turut menandatangani agar tidak terlibat dalam isu nuklir di

NPT (Non Proliferation Treaty) kawasan Timur Tengah.

dalam upaya kampanye GWOT.

Low Partisipasi dalam IAEA. Menekan Suriah supaya mematuhi

aturan-aturan yang terdapat dalam

IAEA.

Menekan Suriah agar program kerjasama nuklir dengan Rusia dihentikan.

Dari tabel matriks diatas kita bisa melihat adanya keinginan AS untuk mencampuri urusan dalam negeri Suriah dalam isu teknologi nuklirnya. Hal ini dilakukan AS sebagai “upaya” yang disebutkan untuk melawan terorisme internasional yang mereka dengung-dengungkan dalam program GWOT-nya. Sebagai negara yang diduga mensupport senjata kepada militan Hezbollah dan kedekatannya dengan negara-negara semacam Iran dan Irak14, maka AS sangat concern terhadap isu nuklir. Ancaman yang dapat timbul dari Suriah ini bisa membahayakan stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah dan kepentingan nasional AS secara khusus. Oleh karena itu, AS gencar melancarkan tekanan-tekanan terkait kerjasama nuklir Suriah dengan Rusia yang bisa membawa dampak buruk.

Untuk selanjutnya kita akan menganalisis politik luar negeri AS kepada Suriah dan instrumen-instrumen yang digunakan dalam matriks berikut ( tabel 1.3):

Tabel 1.3

Instruments of America’s Foreign Policy

National Interests

Hard

Soft

Military

Economic

Diplomatic

Vital

Extremely Important

No state in region hostile to the US acquire new or addition weapons of mass destruction (WMD) capabilities.

Peace be maintained in Middle East.

Regional terrorism be held in check.

Access to oil supply.

Important

States of the region adopt or maintain moderate forms of governance and show growing respect for fundamental human rights15.

Penjelasan dari matriks diatas:

Vital

1. No state in region hostile to the US acquire new or addition weapons of mass destruction (WMD) capabilities.

  • Instrumen militer: pemerintah AS menggunakan militer untuk menciptakan detterence terhadap Suriah seperti yang dilakukannya terhadap Irak bila negara itu ( Suriah ) terbukti memiliki WMD, baik itu nuklir,kimia maupun biologis. AS menempatkan militernya di perbatasan Irak-Suriah dan menguatkan basenya di Israel terkait dengan detterence yang telah disebutkan sebelumnya.

  • Instrumen ekonomi : terkait dengan larangan pengembangan WMD di kawasan timur tengah pada khususnya, AS juga menerapkan instrumen ekonominya ke Suriah dengan tujuan Suriah tidak mengembangkan WMD di negaranya. Antara lain dengan membatasi ekspor teknologi dan barang-barang militer yang mencapai nilai 7 juta dolar ke Suriah16, juga terus memaksa kerjasamanya dengan Rusia terkait teknologi nuklir seger dihentikan.

  • Instrumen diplomasi : pendekatan AS-Suriah berdasarkan dalam pengertian saling menguntungkan dan kerjasama antar pemimpin kedua negara yang berujung pada win-win situation agar Suriah dapat hilang dalam daftar AS sebagai negara yang mensponsori terorisme.

Extremely Important

1. Peace be maintained in the Middle East.

  • Instrumen militer: seperti invasi di Irak, Amerika Serikat juga berusaha menciptakan perdamaian di daerah Timur Tengah. Dalam hal ini Suriah yang dicurigai memiliki senjata pemusnah massal termasuk dalam negara yang dapat menganggu stabilitas keamanan di kawasan. Oleh karena itu, Amerika Serikat yang notabene negara terdepan dalam hal demokrasi dapat sewaktu-waktu menggunakan instrumen militer untuk menginvasi Suriah.

  • Instrumen ekonomi: sektor ekonomi juga dapat dijadikan suatu alat untuk menjaga perdamaian di timur tengah, dalam hal ini AS dapat mengendalikan ladang minyak yang diperolehnya dari Irak sehingga perputaran roda ekonomi di Timur-Tengah yangbertopang pada minyak khususnya di Suriah pun dapat dikendalikan untuk menjaga terjadinya ketegangan sesama negara-negara di Timur-Tengah dan pada akhirnya memberikan keseimbangan ekonomi untuk mendukung perdamaian di tiap negara-negara yang ditakuti AS sebagai negara tempat pelarian antek-antek Saddam Husein.

  • Instrumen diplomatik: instrumen diplomatik sebagai instrumen paling soft dalam menjaga perdamaian diseluruh dunia juga dapat diaplikasikan dalam kasus Timur-Tengah. AS sebagai “negara pendamai” dapat menetralisir ketegangan karena memiliki power yang sangat besar yang dapat digunakan sebagai kekuatan damai. Salah satu caranya adalah dengan menjadi penengah negara-negara yang berkonflik di Timur-Tengah atau memberikan masukan terhadap jalan keluar konflik secara sepihak pada negara yang bersangkutan. Hal ini dijalankan AS dengan baik, seperti pada saat Amerika Serikat berusaha untuk melobi PBB supaya pemerintah Suriah menarik mundur pasukannya dari Lebanon, kemudian membuahkan hasil. Pada 6 Maret 2005, pemerintah Suriah mulai menarik mundur pasukannya dari Lebanon17. Walaupun penarikan pasukan ini membuat Bashar al-Assad selaku presiden Suriah kecewa karena keberadaan pasukan Suriah di Lebanon adalah sah secara hukum dan didasarkan atas izin dari pemerintah Lebanon. Karena kasus ini pula, Presiden Suriah tersebut mengkritisi sikap PBB yang cenderung tutup mata menanggapi kedudukan pasukan Amerika Serikat yang berada di Irak dan Afganistan yang jelas-jelas tidak mendapatkan legitimasi dari PBB.

2. Regional terrorism be held ini check.

  • Instrumen militer: tidak dapat dipungkiri bahwa instrumen militer merupakan cara yang paling ampuh untuk memerangi terrorisme karena seperti yang kita ketahui bahwa tujuan dari aksi teror adalah untuk menyebarkan rasa takut kepada suatu negara untuk mempekenalkan ideologi mereka dalam hal tercapainya perubahan sistem kekuasaan yang diinginkan. Instrumen militer menjadi sangat penting karena kelompok terrorisme sendiri tidak pernah mau melakukan negosiasi seperti yang dilakukan kelompok-kelompok pergerakan Liberalis. Salah satu contohnya adalah dengan pengejaran kelompok Al-Qaeda yang dilakukan gencar oleh AS tanpa pernah mengumandangkan sarana diplomasi ataupun negosiasi dari kubu AS ataupun dari Al-Qaeda sendiri. Di Suriah sendiri, invasi AS masih memungkinkan mengingat anggapan terdapat beberapa bekas pengikut Saddam Husein yang bemukim disana yang disinyalir membentuk kelompok teroris baru untuk menentang segala kebijakan AS di Timur-Tengah18.

  • Instrumen ekonomi: kemungkinan penggunaan instrumen Ekonomi di Suriah dalam rangka penangkalan aksi terrorisme masih dipandang nihil karena perkiraan terrorisme yang akan dibentuk Suriah tidak didukung oleh pemerintah negara yang untuk menbatu pergerakannya membutuhkan suntikan dana dari pemerintah melainkan oleh kelompok-kelompok tertentu (independen).

  • Instrumen diplomasi: mengingat ketegangan yang terjadi antara AS da Suriah adalah anggapan akan timbulnya Aksi terrorisme di Suriah terhadap AS maka Instrumen diplomasi masih dapat dilakukan dengan memeberikan peringatan kepada Suriah terhadap Aksinya yang tidak mendukung invasi AS ke Irak pada masa pemerintahan Bashar Al Assad karena pada pemerintahan sebelumnya, Suriah cenderung memihak pada AS. Aksi terrorisme yang dimaksudkan akan muncul adalah dari bekas-bekas pengikut Saddam yang mengungsi ke Suriah. Bentuk diplomasi yang dilakukan AS melalui menteri luar negerinya saat bertemu menteri luar negeri Suriah di pertemuan tingkat tinggi di Mesir beberapa waktu yang lalu dimana Rice memnita dukungan Suriah untuk memulihkan kondisi Irak pasca invasi dan dapat diartikan sebagai bentuk soft power AS dalam mencegah aksi terrorisme yang dapat dilakukan Suriah.

3. Access to oil supply.

  • Instrumen militer dan ekonomi: kedua instrumen diatas belum memungkinkan dalam mengatur pasokan minyak terhadap AS karena di Suriah sendiri belum terdapat ladang minyak yang cukup sensitif bagi suplai minyak di dunia19 sehingga tidak perlu melakukan invasi yang dimana AS justru akan mengalami kerugian yang luar biasa karena dana yang akan dikeluarkan tidak aka seimbang dengan hasil yang akan di terima (berbeda dengan invasi di Irak), begitu pula dengan instrumen ekonomi yang kemungkinannya lebih rendah karena AS tidak perlu mengeluarkan uang atau embargo ekonominya ke Suriah dalam mempertahankan kebijakan petropolitics-nya dari Timur Tengah.

  • Instrumen diplomasi: instrumen Ini menjadi penting saat AS berbicara masalah suplai minyaknya karena posisi geografis Suriah sendiri yang berada dekat dengan Irak. AS membutuhkan wilayah Suriah untuk pemasangan pipa minyak dari Irak20, oleh karena itu dibutuhkan kemampuan diplomasi dari kedua belah pihak untuk tetap mempertahankan keuntungan masing-masing.

Important

1. States of the region adopt or maintain moderate forms of governance and show growing respect for fundamental human rights.

  • Instrumen militer dan ekonomi: kedua instrumen ini tidak dapat diimplikasikan dalam usaha mempromosikan demokrasi. Karena dalam hal ini tidak diperlukan unsur kekerasan serta pemaksaan penerapan demokrasi. Penggunaan jalan kekerasan (militer), serta sanksi-sanksi ekonomi tentunya berlawanan dengan Hak Asasi Manusia yang mana sangat ditekankan dalam demokrasi. Kenyataannya tidak ada satupun aksi militer yang berupa invasi dapat mewujudkan suatu nilai-nilai kemanusiaan tak terkecuali invasi AS ke Irak yang menggembar-gemborkan penegakan demokrasi tetapi hasil akhirnya sangat berbeda bahkan tidak terdapat nilai demokrasi sedikitpun. Begitu pula dengan instrumen ekonomi yang hanya memberikan efek negatif karena dapat menumbuhkan kecenderungan Neo-Liberalis bagi negara-negara di Timur Tengah yang bisa bekembang menjadi konflik karena penguasaan kapital yang berlebihan.

  • Instrumen diplomasi: Dalam instrumen ini diperlihatkan bagaimana AS mempromosikan demokrasi dan HAM ke seluruh negara di dunia termasuk ke Timur Tengah, dalam hal ini kita mengedepankan Suriah sebagai salah satu contoh. Lewat alasan ini AS mampu menjadi suatu kekuatan hegemoni diatas semua negara lainnya, dan AS mampu mengontrol perkembangan negara lainnya.

III. Kesimpulan

Hampir semua pengamat setuju bahwa hubungan Amerika Serikat dengan Suriah dalam waktu dekat ini, diwarnai oleh tingkah laku dan aksi ke Irak. Dengan usaha stabilisasi AS dalam menangani kekacauan, dimana pemerintahan Irak yang baru masih tetap tergantung seutuhnya dengan AS dan kerjasama internasional, membuat pejabat resmi Irak berhasrat untuk menjalin hubungan yang kuat dengan negara-negara tetangga seperti Suriah, dalam membatasi campur tangan AS untuk masalah perkembangan politik di Irak. Melihat situasi ini, tekanan AS terhadap Suriah (dan tetangganya Iran) mungkin sebuah taktik Amerika untuk meredakan ketegangan ofisial Irak dalam mengkonfrontasi Suriah. Permintaan AS kepada Suriah untuk mengurangi aktivitas ex-Bathists Irak di Suriah dan untuk menghentikan arus militan Islam yang memasuki Irak telah memiliki dampak-dampak dalam mengatur perilaku rejim Assad. Suriah bersama Iran dan negara-negara Arab lainnya akan bekerjasama serta meminta dukungan dari Rusia untuk melakukan pengembangan nuklir di kawasan Timur-Tengah. Bagaimana pun juga secara historis, Suriah adalah negara yang sangat memusuhi Amerika Serikat dan sekutunya Israel, begitu pula dengan Iran. Pemerintah Suriah dari dulu hingga kini sangat dekat dengan pemerintah Rusia, sehingga tidak menutup kemungkinan Rusia akan membentu Suriah dalam rangka berperang melawan Aerika Serikat dan Zionisme Israel21. Suriah kini dianggap oleh Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang dapat membahayakan kepentingan negara superpower itu di kawasan Timur-Tengah. Apalagi menurut pengamat neo-konservatif mereka, Suriah merupakan negara yang menghalang-halangi perubahan yang hendak diterapkan AS di Timur-Tengah. Disinyalir bila sikap pemerintah Suriah tidak kunjung berubah untuk menjadi pendukung kebijakan politik Amerika Serikat di Timur-Tengah yang antara lain untuk mengeksistensikan Israel sebagai negara merdeka, Amerika Serikat bisa saja dengan mudah menginvasi Suriah.

1 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/13/Fokus/250570.htm. Diakses pada tanggal 13 November 2007 pk.14.55

2 http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/26/opi02.htm. Diakses pada tanggal 13 November 2007 pk.15.11

3 http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/19/0804.htm. Diakses pada tanggal 13 November 2007 pk.15.25

5 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0311/17/ln/689873.htm. Diakses pada tanggal 13 November 2007 pk.15.42

6 Usman Syakirin. Rencana Invasi Amerika Serikat Ke Suriah. Agustus 2005. http://www.tempointeraktif.com. Diakses pada tanggal 13 November 2007 pk.15.47

7 Alfred B. Prados and Jeremy M. Sharp. (2005). Syria: Political Conditions and Relations with the United States After the Iraq War. The Library of Congress

8 http://fpc.state.gov/documents/organization/42483.pdf. Diakses pada tanggal 13 November 2007 pk.15.58

9 Robert J. Aart. (2003). A Grand Strategy for America. Cornell University Press, Ithaca, hal 7

10 http://www.kapanlagi.com/h/0000187188.html. Diakses pada tanggal 13 November 2007 pk.16.36

11 Scott Wilson, “U.S. Pressing Syria On Iraq Border Security,” Washington Post, Sept. 20, 2004, pg. A16

12 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0311/17/ln/689873.htm. Diakses pada tnggal 13 November 2007 pk.16.48

13 Nicholas Blanford, “More Signs of Syria Turn up in Iraq,” Christian Science Monitor, Dec. 23, 2004. http://www.csmonitor.com/2004/1223/p01s01-woiq.html. Diakses pada tanggal 14 November 2007 pk.11.20

14Washington and Syria: Cooperation or Confrontation?” by Moshe Maoz, May 6, 2005. http://www.usip.org/fellows/reports/2005/0506_maoz.html. Diakses tanggal 14 November 2007 pk. 14.20.

15 Allison, Graham T. and Blackwill, Robert. (2000). The Commision on America’s National Interests. Harvard Belfer Center for Science and International Affairs.

16 Bensahel, Nora and Byman, Daniel L. (2004). The Future Security Environment in The Middle East, Conflict, Stability, And Political Change. Pittsburgh: Rand Corporation.

17 http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/07/int01.htm. Diakses pada tanggal 15 November 2007 pk.17.36

18 Anouar Boukhars. Keberhasilan Politik Luar Negri Amerika Serikat di Timur-Tengah. 7 Desember 2006. http://www.bitterlemmons-international.org. Diakses pada tanggal 14 November 2007 pk.15.10

19 http://www.mbendi.co.za/indy/oilg/ogus/as/sy/p0005.htm. Diakses tanggal 14 november 2007 pk.16.55

20 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/22/ekoint/268297.htm. Diakses pada tanggal 14 November pk.18.20

21 Ilyas al Robi. Iran-Suriah Harus Berubah .4 Oktober 2007. http://www.Bitterlemmons.org. Diakses pada tanggal 15 November 2007 pk.20.15

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: