definisi Cadel,dan cara mencegah Cadel

Sebagian masyarakat percaya pada mitos yang mengatakan anak laki-laki lebih lambat menguasai kemampuan bicara dibanding anak perempuan. Padahal penelitian yang ada menunjukkan prosentase kemampuan bicara antara anak laki-laki dengan anak perempuan sama saja. Apalagi kemampuan bicara manusia sebetulnya sudah terlihat sejak ia dilahirkan, ditandai dengan tangisan bayi begitu keluar dari rahim ibunya.

Mitos itu mungkin muncul karena keterlambatan bicara pada anak laki-laki lebih cepat terdeteksi daripada anak perempuan. Bukankah perilaku anak laki-laki yang lebih aktif dan agresif mampu menarik perhatian orang di sekitarnya, sehingga kalau ada sesuatu yang terjadi padanya akan lekas ketahuan. Berbeda halnya dengan bayi perempuan yang kebanyakan lebih kalem walaupun tidak mesti begitu.

Cadel itu sendiri adalah ketidakmampuan mengucapkan satu huruf unik, umumnya huruf R, meski ada juga sebagian orang yang justru bisa menyebut huruf R, namun cadel untuk huruf lainnya. Orang Jepang misalnya, kebanyakan cadel pada huruf L. Ada beragam variasi cadel pada anak. Ada yang menyebut “R” jadi “L”, “K” jadi “T”, “K” jadi “D”, atau “S” dengan “T”, sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda. Jadi yang dimaksud dengan cadel adalah kesalahan dalam pengucapan.

Memang semestinya pada rentang usia pra-sekolah, anak sudah bisa mengucapkan seluruh konsonan dengan baik. Sebab menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidahnya mulai matang. Hanya saja, perkembangan setiap anak berbeda. Jadi wajar meski usianya sama tapi masih ada anak yang cadel.

Sayangnya, cukup sulit mendeteksi, apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan berlanjut terus atau tidak karena menyangkut sistem saraf otak yang mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur koordinasi alat-alat vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata.

Kerusakan pada area broca disebut motor aphasiam yang membuat anak lambat bicara dan pengucapannya tak sempurna sehingga sulit dimengerti. Sedangkan kerusakan pada area wernicke disebut sensori aphasia di mana anak dapat berkata-kata tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk mengerti kata-kata orang lain.

Tak hanya itu, kesulitan mendeteksi juga disebabkan pada rentang usia 3-5 tahun kemampuan anak masih berkembang. Artinya dia sedang dalam proses belajar berbicara. Ia tengah berada pada fase mulai menyesuaikan, mulai menambah perbendaharaan kata, meningkatkan pemahaman mengenai bahasa dan perkembangan makna kata. Termasuk juga penguasaan konsonan.

Kendati demikian, orang tua sebaiknya tidak membiarkan kecadelan anaknya, karena semakin lama akan semakin sulit diluruskan, sehingga bisa jadi si anak akan terus berada dalam kecadelannya. Apalagi cadel tak akan hilang secara otomatis meski kadar keseringannya berkurang. Jadi, berikanlah stimulasi agar cadelnya tak berkelanjutan.

Bila cadel dibiarkan, maka di usia sekolah nanti dapat menyebabkan anak merasa berbeda dengan teman-temannya. Buntutnya, anak menjadi malu dan merasa asing dari orang lain. Bisa-bisa ia tak mau bila disuruh berbicara di depan kelas karena takut ditertawakan teman-temannya. Akibatnya, anak jadi minder dan menarik diri.

Terakhir, rasa minder itu akan mempengaruhi self esteem atau harga diri si anak yang dapat berlanjut ke konsep diri. Tugas orang tualah untuk membangunkan harga diri anak agar ia tak minder. Caranya dengan menonjolkan kelebihan si anak sehingga dia tetap percaya diri.

Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah menjadi salah satu penyebab cadel. Kemampuan mengucapkan kata-kata, vokal dan konsonan secara sempurna sangat bergantung pada kematangan sistem saraf otak, terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otot-otot lidah. Untuk mengucapkan konsonan tertentu, seperti ‘R’, diperlukan manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir.

Cara mengatasinya, orang tua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan ucapan yang benar. Tetapi ingat, orang tua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa. Apalagi jika saat itu belum tiba waktu kematangannya untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya. Lakukan pula kerja sama dengan guru, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih maksimal.

Cadel juga bisa disebabkan karena kelainan fisiologis. Namun cadel yang disebabkan oleh kelainan fisiologis jumlahnya sangat sedikit. Penyebabnya dibedakan menjadi tiga, yakni gangguan pada bagian pendengaran; gangguan pada otak; dan gangguan di wilayah mulut.

Adapun gangguan pada bagian pendengaran bisa berupa adanya kerusakan atau ketidaksempurnaan pada organ-organ yang terdapat di telinga, sehingga bisa mempengaruhi pendengaran. Akibatnya informasi yang diperoleh tidak lengkap sehingga berdampak pada daya tangkap dan tentunya juga mempengaruhi kemampuan berbicaranya.

Sementara itu gangguan pada otak kategorinya beragam. Di antaranya adalah perkembangan yang terlambat, atau karena penyakit yang diderita seperti radang selaput otak, atau kejang terus-menerus. Beragam gangguan ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi otak sehingga berdampak pada gangguan bicara. Salah satunya adalah cadel.

Sedangkan gangguan di wilayah mulut disebabkan adanya kelainan pada organ-organ di mulut (langit-langit, lidah, bibir, rahang, dan lain-lain). Misal, bibir sumbing, langit-langitnya terlalu tinggi, lidah yang terlalu pendek, rahang yang terlalu lebar, terlalu sempit, atau memiliki bentuk yang tidak proporsional. Namun umumnya kelainan pada organ mulut ini sangat jarang terjadi.

Kelainan fisiologis dapat diatasi, tergantung oleh berat ringan penyebabnya. Umumnya bila penyebabnya termasuk kategori berat, maksudnya penyakitnya tak dapat disembuhkan atau kelainan organnya tak dapat dikoreksi, maka bisa menjadi cadel yang menetap. Namun bila tergolong ringan, maka cadelnya tidak menetap.

Penyebab cadel lainnya adalah faktor lingkungan. Misal, karena meniru orang tuanya. Banyak orang tua yang menanggapi cadel anaknya dengan kecadelan pula. “Jangan naik pagel (pagar, Red).” Akibatnya malah bisa membuat anak jadi terkondisi untuk terus bicara cadel. Padahal saat anak belajar berbicara, ia bisa mengucapkan suatu kata tertentu karena meniru. Nah, kalau orang tua atau orang-orang yang berada di lingkungan terdekatnya berkata cadel, ia akan berpikir itulah yang benar. Jadilah ia cadel sungguhan.

Begitu juga jika ayah atau ibunya cadel (sungguhan). Kemungkinan anak tak pernah mendengar dan belajar bagaimana seharusnya mengucapkan konsonan tertentu. Cara mengatasinya, orang tua harus menghentikan kebiasaan berkata cadel dan melakukan koreksi. Amati dengan jeli. Contoh, bila hari ini bisa namun keesokan harinya tidak bisa, maka tugas orang tua segera mengoreksi dengan menyebutkan yang sebenarnya.

Mintalah kepada anak untuk mengulanginya beberapa kali. Namun, jangan memaksa. Berikan penghargaan bila ia kembali mampu mengucapkannya dengan baik. Jika orang tua memang cadel, mintalah orang-orang yang berada di lingkungan terdekat untuk memberikan stimulasi kepada anak.

Faktor psikologis juga bisa menyebabkan cadel. Contoh, untuk menarik perhatian orang tuanya karena kehadiran adik. Yang semula tidak cadel, tiba-tiba menjadi cadel karena mengikuti gaya berbicara adiknya. Cara mengatasinya, orang tua harus menunjukkan bahwa perhatian kepadanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik. Selain itu, orang tua juga harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang tidak tepat.

Demi menghindari timbulnya cadel, rajin-rajinlah memberikan stimulasi pengucapan yang benar. Paling lambat saat anak berusia dua tahun. Jangan gunakan bahasa dengan pengucapan yang cadel. Jangan mengganti bunyi “S” dengan “c” atau “R” dengan “I” dan lain-lain.

Jangan pula menghilangkan konsonan tertentu dalam berbicara. Ini kerap dilakukan tanpa disadari oleh orang dewasa dengan alasan memudahkan. Yang paling sering adalah konsonan “R”, semisal “pergi” jadi “pegi” atau “es krim” jadi “ekim”.
– – – – – – — – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
sumber: http://www.kabarindonesia.com/berita…20081226223351

tapi bagi saya cadel itu bukanlah sesuatu yang harus ditakuti..
yang terpenting bagi kita adalah jangan pernah berpikir kalau cadel itu sesuatu yang jelek atau tidak berguna,cobalah kita bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini

Satu Tanggapan to “definisi Cadel,dan cara mencegah Cadel”

  1. faris Says:

    bagaimanah jika umur 10-17 tahun yg masih cadel
    adakah cara msngatasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: